Outlined Text Generator at TextSpace.net
Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

Sabtu, 16 April 2011

CARA KERJA ILMU ALAM DALAM FILSAFAT ILMU


            Ilmu alam adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam (gejala alam yang tidak hidup). Sifat ilmu alam adalah empiris, artinya gejala alam itu dianggap sebagai fenomena yang dapat dibuktikan secara indrawi, dan konkret.[2]
v  Cara Kerja Ilmu Alam
            Cara  Kerja ilmu alam dapat terlihat dari tiga contoh proses yang terdiri dari langkah-langkah pengamatan, percobaan, dan penentuan. Ketiga contoh tersebut dapat diamati dalam rangka sejarah penemuannya (context of discovery), dan dalam rangka upaya pembenaranya ( context of justification).[3]




a.      Contoh sejarah dalam menerapkan kerja ilmu alam:



-          Penemuan dalam pengukuran tekanan udara
          Penemuan Evangelista Torricelli memicu penelitian cuaca dan atmosfir. Penemuan ini yang mendorong pengetahuan kita mengenai atmosfir. Penemuan ini membantu mendasari Newton dan yang lainnya dalam pemahaman mengenai gravitasi. Penemuan yang sama juga membuat Torricelli memahami konsep vakum dan menciptakan barometer, suatu alat paling dasar untuk mengukur dalam studi cuaca. Bagaimana Ditemukan?
          Pada bulan Oktober 1640, Galileo mencoba melakukan eksperimen pompa pengisap pada sumur umum dekat pasar di Florence, Italia. Galileo merendahkan tabung panjang ke air sumur. Dari sumur, tabung Galileo menyaput keatas melalui kayu salib 3 meter ke atas sumur kemudian ke bawah pompa yang menggunakan kekuatan manusia, yang dipegang oleh 2 asistennya : Evangelista Torricelli, 32 tahun, seorang anak kaya dan seorang ilmuwan yang bermotivasi tinggi Giovanni Baliani, seorang fisika Italia lainnya. Torricelli dan Baliani memompa sampai tabung itu merata seperti sedotan yang dihisap. Tetapi bagaimanapun mereka mencobanya, air tidak mau melewati batas 9.7 meter diatas level air sumur. Hasilnya sama di setiap percobaan. Galileo berpendapat entah bagaimana berat air telah membuat dia kembali ke ketinggian tersebut.
          Pada tahun 1643, Torricelli berpikir, jika Galileo benar maka cairan yang lebih berat harusnya mencapai ke ketinggian tertentu dan jatuh ke keketinggian yang lebih rendah. Air raksa lebih berat 13.5 kali daripada air biasa. Oleh karenanya, tinggi air raksa tidak mungin lebih tinggi daripada 1/13.5 tinggi air atau sekitar 30 inci. Kemudian ia mengisi sebuah tabung gelas setinggi 6 kaki dengan air raksa dan menutup dengan penyumbat diujungnya. Dia kemudian membalikkan tabung dan membiarkan sumbatnya terendam dalam tong berisi air raksa kemudian langsung menarik penyumbatnya. Seperti yang dia harapkan air raksa mengalir keluar dari tabung dan masuk ke tong. Tetapi tidak semua air raksa keluar.  Torricelli mengukur tinggi yang tersisa dalam tabung itu, hasilnya 30 inci, seperti yang diharapkan. Tetapi Torricelli merasa ada sesuatu yang berhubungan dengan kehampaan yang dia ciptakan diatas tabung air raksa itu.
          Pada hari berikutnya, ketika sedang terjadi hujan dan angin yang kuat diluar, Torricelli mengulang eksperimennya, mencoba mempelajari vakum dari tabung di air raksa itu. Tetapi pada hari ini tabung air raksa hanya mencapai ketinggian 29 inci. Torricelli menjadi bingung. Seharusnya hasilnya harusnya sama dengan kemarin. Apa yang terjadi? Hujan terus menerus mengenai jendela sampai tiba-tiba Torricelli mendapat ilham. Apa yang berbeda adalah atmosfir atau kata lain cuaca. Torricelli berpikir, udara sendiri memiliki berat. Jawaban sebenarnya adalah bukan pada berat air, bukan juga karena vakum yang ada diatasnya, tetapi berat atmosfir yang menekannya ke bawah. Tekanan ini mendorong air raksa dalam tabung naik. Berat dari air raksa dalam tabung haruslah sama dengan berat atmosfir yang menekan ke bawah terhadap air raksa dalam tabung. Ketika berat atmosfir berubah, maka gaya menekan ke bawah juga akan berubah sedikit lebih besar atau kecil dibandingkan pada air raksa dalam tabung dan membuat air didalam tabungnya sedikit naik atau turun. 
          Dengan demikian Torricelli telah menemukan tekanan atmosfir dan jalan mengukur dan mempelajarinya.[4]
Contoh lain:
-          Ilmu falak dan sistem matahari
-          Dalam ilmu kedokteran, yaitu menemukan sebab penyakit dan obat-obat alamiah[2]
-          Hal-hal yang lain masih sangat banyak, seperti menemukan cara peghitungan tekanan air, suhu pada api, dan lain-lain yang semuanya merupakan produk pemikiran dalam konteks kerja ilmu alam.
b.      Hipotesa[5]
            Hipotesa berfungsi untuk merumuskan suatu pemikiran agar menjadi hasil yang mendekati kebenaran nyata atau kesempurnaan hasil pengamatan dan percobaan. Secara analisis tertulis dapat menggunakan rumus silogisme yang telah dipelajari.
c.       Perluasan dan Perincian Hipotesa[6]
            Untuk membuktikan kesempurnaan hipotesis, maka harus diperluas dengan mencari kemungkinan lain agar tidak dikatakan salah. Kemudian disimpulkan kembali dengan perincian atau dimurnikan, contohnya hipotesa Kopernikus, yaitu planet-planet mengitari matehari secara lingkaran” diubah menjadi “....secara elipsa”.
d.      Dari Hipotesa Menuju Hukum Alam[7]
            Walaupun para ilmuan menganggap hal ini kurang empiris, namun hasil hipotesa yang ada dapat dikatakan sebagai hukum alam pada aspek-aspek yang natural, seperti atmosfer, perputaran bumi, suhu, dan lain-lain.
e.      Dari Hukum Alam Menuju Teori Ilmiah[8]
            Setelah melalui pembuktian teknologi atau dengan ilmu bumi maupun metereologi atau ilmu-ilmu lainya, maka hasil yang awalnya hanya pemikiran dan mampu sampai pada hukum alam, dapat menjadi teori ilmiah bila lulus uji percobaan dan dapat bersifat statis, kecuali setelah ada pembuktian baru. Maka hasil pemikiran tersebut dapat berfungsi sebagai kajian para pemikir selanjutnya.


  KESIMPULAN
Ø  Ilmu alam adalah ilmu yang membahas tentang gejala-gejala alam (gejala alam yang tidak hidup). Sifat ilmu alam adalah empiris, artinya gejala alam itu dianggap sebagai fenomena yang dapat dibuktikan secara indrawi, dan konkret.
Ø  Cara  Kerja ilmu alam dapat terlihat dari tiga contoh proses yang terdiri dari langkah-langkah pengamatan, percobaan, dan penentuan. Ketiga contoh tersebut dapat diamati dalam rangka sejarah penemuannya (context of discovery), dan dalam rangka upaya pembenaranya ( context of justification).
Ø  Urutan Cara Kerja Ilmu Alam: Pemikiran à Hipotesa à Perluasan dan Perincian Hipotesa à Dari Hipotesa Menuju Hukum Alam à Dari Hukum Alam Menuju Teori Ilmiah.

DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku:
Verhaak, C. Dan Haryono Imam. 1997. Filsafat Ilmu Pengetahuan. Jakarta: Gramedia.
Sumber Internet:









[2] Lihat lebih lanjut pada http://rayonkusurgaku.blogspot.com/2010/10/cara-kerja-ilmu-alam.html, (Jum’at, 8 April 2011, pukul 02.23 WIB)
[3] C. Verhaak & Imam Haryono, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Gramedia, 1997), hlm. 27.




[4] Lihat lebih lanjut pada http://archive.kaskus.us/thread/2178776/20 (diunduh pada hari Jum’at, 8 April 2011, pukul 01.15 WIB)
[5] Ibid., hlm. 29-32.
[6] Ibid., hlm. 34.
[7] Ibid., hlm. 38-39.
[8] Ibid., hlm. 44.
[9] Ibid., hlm. 59.

0 komentar:

:10 :11 :12 :13 :14 :15 :16 :17
:18 :19 :20 :21 :22 :23 :24 :25
:26 :27 :28 :29 :30 :31 :32 :33
:34 :35 :36 :37 :38 :39

Posting Komentar